Kamis, 12 April 2012

Konselor


BAB I
PENDAHULUAN

Bimbingan Konseling merupakan suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya, dan siswa pada khususnya di sekolah. Agar dalam proses Bimbingan dan Konseling berjalan dengan baik, maka dibutuhkan Konselor. Konselor adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam konseling.
Tugas konselor yaitu: Memasyarakatkan kegiatan bimbingan dan konseling (terutama kepada siswa); Merencanakan program bimbingan dan konseling bersama koordinator BK; Merumuskan persiapan kegiatan bimbingan dan konseling; Melaksanakan layanan bimbingan dan konseling terhadap siswa yang menjadi tanggung jawabnya (melaksanakan layanan dasar, responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem); Mengevaluasi proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan dan konseling; Menganalisis hasil evaluasi.
Agar Konselor dapat menjalankan tugasnya dengan baik, Konselor harus mempunyai sikap dan keterampilan, keefektifan konselor, kompetensi konselor, kreativitas konselor dalam mengambil keputusan.










BAB II
PEMBAHASAN

A.          Pengertian Konselor
Konselor adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam konseling. Konselor bergerak terutama dalam konseling di bidang pendidikan, tapi juga merambah pada bidang industri dan organisasi, penanganan korban bencana, dan konseling secara umum di masyarakat. Khusus bagi konselor pendidikan yang bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bimbingan konseling kepada peserta didik (di satuan pendidikan sering disebut Guru BP/BK atau Guru Pembimbing.[1]

B.          Sikap dan Keterampilan Konselor
Sikap dan keterampilan merupakan dua aspek penting kepribadian konselor. Sikap sebagai suatu disposisi tidaklah tampak nyata, tidak dapat dilihat bentuknya secara langsung. Berbeda dengan sikap, keterampilan dapat tampak wujudnya dalam perbuatan.
1.    Sikap Dasar Konselor
a.              Penerimaan
Penerimaan sebagai salah satu sikap dasar konselor mengacu pada kesediaan konselor memiliki penghargaan tanpa menggunakan standar ukuran atau persyaratan tertententu terhadap individu sebagai manusia atau pribadi secara utuh. Ini berarti konselor menerima setiap individu klien yang datang kepadanya, dalam konseling, tanpa menilai aspek-aspek pribadinya yang “lemah” ataupun yang “kuat”. Jadi, penerimaan merupakan komponen penting dari penghargaan konselor terhadap klien, dan merupakan dasar proses konseling secara keseluruhan.
b.             Pemahaman
Konselor diharapkan memiliki pemahaman terhadap klien, bukan berarti bahwa konselor mengerti batin klien sebagaimana mengerti isi suatu bacaan. Konselor tidak dituntut berlayan sebagai ahli kebatinan yang dengan tenaga “paranormalnya” mungkin dapat “melihat” batin orang. Konselor, menurut Jones, Stafflre dan Stewart (1979), hendaknya memahami siswa atas dua tingkat. Hasil observasi, catatan konferensi, dan hasil-hasil tes tersedia sebagai bahan pemahaman (tingkat pertama: tingkah laku). Akan tetapi menurut mereka siswa baru merasa bahwa ia dipahami jika komunikasi dengan konselor bergerak dalam tingkat perasaan; dan konselor menunjukkan bahwa dia paham dunia siswa dan menerima rasa takut dan harapan-harapan siswa sebagaimana siswa melihatnya. Karena itu, menurut ketiga penulis tadi, konselor hendaknya lebih condong berfikir dengan (bersama-sama) daripada tentang atau mengenai siswa (klien).
c.              Kesejatian dan Keterbukaan
Kesejatian pada dasarnya menunjuk pada keselarasan (harmoni) yang mesti ada dalam fikiran dan perasaan konselor dengan apa yang terungkap melalui perbuatan ataupun ucapan verbalnya.
Keterbukaan pada konselor merupakan kualitas pribadi yang dapat disebut sebagai cara konselor mengungkapkan kesejatiannya. Keterbukaan yang sepantasnya itu, berarti konselor mesti terbuka dan jujur dalam semua hal.
2.    Keterampilan Dasar Konselor
a.              Kompetensi Intelektual
Keterampilan konselor dilandasi oleh pengetahuan siap pakai mengenai tingkah laku manusia, pemikiran yang cerdas, dan kemampuan mengintegrasikan peristiwa yang dihadapi dengan pendidikan dan pengalamannya.
b.             Kelincahan Karsa-cipta
Kelincahan karsa-cipta konselor dalam memilih dengan cepat dan tepat respon yang bijak. Kelincahan ini terutama sekali terasa pentingnya pada saat interview konseling dimana klien mengemukakan pernyataan-pernyataan verbal ataupun nonverbal.
c.              Pengembangan Keakraban
Keakraban mengacu pada suasana hubungan konseling yang bercirikan suasana santai, keselarasan, kehangatan, kewajaran, saling memudahkan dalam percakapan, dan saling menerima antara klien dengan konselor.
Meskipun suasana akrab yang baik itu berada pada kedua pihak (konselor dan klien), namun tanggung jawab penciptaan dan pemantapan sepenuhnya berada di tangan konselor.[2]

C.          Keefektifan Konselor
1.    Faktor-faktor Pembeda Umum
a.              Pengalaman
Banyak bukti bahwa pengalaman merupakan variabel penting bagi keefektifan konselor. Pengalaman yang banyak dan luas konselor akan mendukung kelancaran proses konseling.
b.             Tipe Hubungan Konseling
Keefektifan konseling berkenaan dengan tipe hubungan yang diciptakan oleh konselor dengan kliennya. Pada dasarnya, konselor yang berhasil sampai pada tipe hubungan perasaan dan mengeksplorasi perasaan klien adalah konselor yang lebih berhasil dibandingkan dengan yang bertipe hubungan obyektif, rasional-kognitif semata.
c.              Faktor-faktor Nonintelektif
Studi mengenai hubungan antara keefektifan konselor dengan kepribadian menunjukkan bahwa konselor yang efektif dapat dibedakan dari yang tidak efektif dalam hal:
1)   Citra-diri, motivasi, nilai-nilai, perasaan mengenai orang lain, dan tatanan perseptual
2)   Unjuk-kerjanya dalam tes-tes kepribadian yang terstandar dan inventori minat. Di samping itu, konselor yang efektif bersangkutan pula dengan adanya sikap toleran terhadap pertentangan, penuh pemahaman terhadap klien, kematangan, dan kemampuan menciptakan hubungan sosial dengan nonklien.
2.    Ciri-ciri Khusus Kemampuan Konselor Efektif
Ciri-ciri Konselor efektif, khusus berkenaan dengan kemampuan, dikemukakan secara lebih rinci oleh Eisenberg dan Delaney (1977)[3], yang disadur singkat sebagai berikut:
a.    Para helper yang efektif sangat terampil mendapatkan keterbukaan
b.    Para helper yang efektif membangkitkan rasa percaya, kredibilitas, dan keyakinan dari orang-orang yang mereka bantu
c.    Para helper yang efektif mampu menjangkau wawasan luas, seperti halnya mereka mendapatkan keterbukaan
d.   Para helper yang efektif berkomunikasi dengan hati-hati dan menghargai orang-orang yang mereka upayakan bantu
e.    Para helper yang efektif mengakui dan menghargai diri mereka sendiri dan tidak menyalahgunakan orang-orang yang mereka coba bantu untuk memuaskan kebutuhan pribadi mereka sendiri
f.     Para helper yang efektif mempunyai pengetahuan khusus dalam beberapa bidang keahlian yang mempunyai nilai bagi orang-orang tertentu yang akan dibantu
g.    Para helper helper yang efektif berusaha memahami, bukannya menghakimi, tingkah-laku orang yang diupayakan bantu
h.    Para helper yang efektif mampu bernalar secara sistematis dan berfikir dengan pola sistem
i.      Para konselor yang efektif berpandangan mutakhir dan memiliki wawasan luas terhadap peristiwa-peristiwa yang berkenaan dengan manusia
j.      Para helper yang efektif mampu mengidentifikasi pola tingkah-laku yang merusak-diri (Self-defeating) dan membantu orang lain untuk berubah dari tingkah laku merusak diri ke pola-pola tingkah laku yang secara pribadi lebih memuaskan
k.    Para helper yang benar-benar efektif sangat terampil membantu orang-orang lain melihat diri sendiri, dan merespons secara tidak defensif terhadap pertanyaan “Siapakah Saya?”
3.    Ciri-ciri Khusus Perseptual Konselor yang Baik
Atas hasil penelitian, Comb, dkk. (1971)[4] mengajukan bahwa konselor yang baik mempunyai ciri-ciri perseptual tertentu. Ciri-ciri dimaksud meliputi keyakinan terhadap konseli, terhadap diri (self), dan terhadap tujuan-tujuan yang dicapai melalui helping. Lengkapnya, pandangan Comb, dkk. Itu diadaptasikan sebagai berikut:
a.    Para konselor yang baik lebih bercenderung berpersepsi:
1)   Dari kerangka acuan internal daripada kerangka acuan eksternal. Para konselor peka terhadap (dan memperhatikan bagaimana) orang lain, teman kontaknya, memandang sesuatu, dan para konselor menjadikan ini sebagai dasar menyesuaikan tingkah laku mereka
2)   Kepada orang daripada benda. Fikiran para konselor lebih berpusat pada orang dan reaksi-reaksi orang daripada memperhatikan benda-benda atau peristiwa-peristiwa
b.    Para konselor yang baik akan mempersepsi orang lain sebagai:
1)   Mampu daripada tak mampu. Para konselor memandang orang lain mempunyai kecakapan mengatasi masalah-masalahnya. Mereka mempunyai keyakinan bahwa orang-orang lain dapat menemukan pemecahan adekuat dan bukannya meragukan kemampuan orang lain mengurasi diri sendiri dan kehidupan sendiri
2)   Patut percaya daripada sangsi. Para konselor menghargai orang lain sebagai insan yang secara esensial patut dipercaya daripada disangsikan. Mereka menaruh kepercayaan dalam hal keseimbangan dan keajegan orang lain, dan tidak menaruh sangka terhadap orang lain
3)   Peramah daripada tak-acuh. Para konselor mempersepsi orang lain sebagai insan peramah dan pendukung. Mereka tidak mempersepsi orang lain sebagai insan yang mengancam, tapi sebaliknya mempersepsi orang lain sebagai insan yang secara esensial bermaksud baik ketimbang bermaksud jahat
4)   Berguna daripada sia-sia. Para konselor cenderung melihat orang lain sebagai insan yang berguna daripada tidak bermanfaat.
5)   Suka membantu daripada suka menggangu. Para konselor melihat orang secara potensial suka membantu dan mendukung daripada suka merintangi atau suka mengancam
6)   Termotivasi secara internal daripada secara eksternal. Para konselor melihat orang bertingkah laku atas dorongan-dorongan dari dalam diri daripada atas dorongan kejadian-kejadian luar. Orang-orang dilihat oleh konselor sebagai lebih bersifat kreatif, dinamis daripada pasif.
c.    Para konselor yang baik mempersepsi diri sendiri sebagai:
1)   Beridentifikasi pada orang daripada menghindari orang. Para konselor cenderung melihat diri sendiri selaku bagian darinumat manusia; mereka melihat diri sendiri lebih selaku orang yang mendekat, berbuat sama, dengan orang daripada selaku orang yang mengundurkan diri, menjauhkan diri, atau mengasingkan diri dari orang lain
2)   Memadai daripada tidak berdaya. Para konselor melihat diri cukup memadai secara umum; sebagai orang yang memiliki hal-hal yang diperlukan guna menghadapi masalah-masalahnya sendiri. Mereka tidaklah menilai diri sebagai kurang atau tidak berdaya menanggulangi masalahnya sendiri
3)   Berguna daripada sia-sia. Para konselor memandang dirinya sendiri sebagai orang yang memiliki martabat, kemuliaan, integritas dan dayaguna
4)   Terpercaya daripada meragukan. Para konselor meyakini tatanan pribadinya sendiri dan memandang diri sendiri secara esensial terpercaya dan memiliki potensi mengahadapi permasalahan
d.   Para konselor yang baik mempersepsi tujuan-tujuan mereka sebagai:
1)   Membebaskan daripada mengendalikan. Tujuan-tujuan para konselor secara esensial adalah bersifat membebaskan dan memberi kemudahan daripada membatasi, menguasai, memaksa, atau mendalangi
2)   Altruistis daripada narsistis. Para konselor tampak di motivasi oleh perasaan yang lebih mengutamakan kepentingan orang lain (altruisme) daripada kesenangan diri sendiri, atau cinta diri (narcissisme). Mereka memperhatikan orang-orang lain dan tidak selalu memperhatikan diri sendiri
3)   Memperhatikan makna yang luas daripada yang sempit. Para konselor cenderung melihat sesuatu peristiwa secara lebih luas daripada perspektif sempit. Mereka melihat adanya konotasi-konotasi kejadian secara luas, lebih besar, implikasi-implikasi lebih jauh, daripada yang khusus atau sesaat
4)   Membuka diri daripada menutup-nutupi diri. Para konselor lebih cenderung mengungkap kan diri daripada merahasiakan diri; artinya, mereka mau menyingkap keadaan dirinya sendiri
5)   Melibatkan daripada menhindar. Para konselor melibat secara pribadi dengan orang-orang yang dihadapi. Mereka menciptakan komitmen mengenai proses bantuan dan mau masuk dalam interaksi
6)   Berorientasi pada proses daripada berorientasi pada tujuan. Para konselor memandang peranan mereka selaku pendukung dan pelancar proses penjajakan dan penemuan, dan bukannya mengarah atau bekerja ke arah tujuan pribadi yang sudah diketahui sebelumnya
Syarat-syarat bagi keefektifan konselor, seperti dibeberkan dalam tiga poin di atas memang tampak ideal. Ada sekurang-kurangnya dua makna dari ciri ideal seperti itu:
1)   Bagi konselor pemula dan calon konselor dapat membandingkan karakteristik diri yang dimiliki dengan karakteristik ideal yang tersedia, selanjutnya mengenali bidang/ lokasi karakteristik yang layak pada dirinya, serta mengadakan modifikasi dan pengembangan karakteristik diri yang cocok untuk menjadi konselor efektif
2)   Bagi lembaga pendidikan/ pelatihan konselor dapat merancang pola seleksi mahasiswa yang cocok dari segi kepemilikan karakteristik layak konselor efektif, serta merancang jenis dan isi pengalaman belajar yang mendukung pencapaian karakteristik konselor efektif
4.    Konselor yang Tidak Efektif: Perbedaannya dengan Konselor yang Intensional
Dalam hal ini, Allen E. Ivey (1980)[5] mengemukakan ciri-ciri konselor yang tidak efektif dibandingkan dengan konselor intensional:
Perbedaan antara konselor yang intensional dengan konselor yang tidak efektif[6]
Atribut
Konselor yang intensional
Konselor yang tidak efektif
Tujuan Helping
Berusaha membantu klien mencapai tujuan-tujuan klien menurut agenda klien. Mau menyarankan pandangan alternatif dan menyediakan arahan dalam beberapa hal
Berusaha memaksakan tujuan-tujuannya sendiri mengikuti agendanya sendiri. Mungkin tidak bersedia menyediakan arahan dan dukungan yang jelas diperlukan
Pengungkapan respon-respon
Dapat mengungkapkan dan melhirkan banyak respon bagi berbagai macam ragam situasi dan persoalan/ konseren
Mungkin tidak memiliki respon atau berpegang teguh pada satu cara respon tertentu saja
Wawasan pandang
Berpemahaman dan bertindak/ berbuat atas berbagai wawasan pandang
Mungkin tidak memiliki wawasan pandang atau mampu bekerja hanya dalam satu kerangka kerja
Teori-teori psikologis
Berpemahaman dan bekerja dalam sejumlah kerangka kerja psikologis. Melihat nilai-nilai potensial dalam banyak ancangan yang tersedia
Dapat berbuat/ bekerja dalam satu teori psikologis; memahami secara terbatas kerangka kerja yang lain
Intensionalitas budaya
Mampu mengungkap kan pernyataan-pernyataan verbal dan nonverbal dalam jumlah maksimum guna berkomunikasi dengan orang-orang sebudaya dengannya dan juga orang dari sejumlah budaya lain
Mampu berfungsi dalam hanya satu kerangka budaya
Kerahasiaan
Mempertahankan rahasia klien
Mendiskusikan/ membicarakankehidupan klien dengan orang-orang lain tanpa izin
Keterbatasan
Mengakui keterbatasannya dan bekerja dengan supervisi. Saling bertukar pikiran dalam hal teori, konsep dan pengalaman pribadi dalam interview dengan konselor-konselor lain
Bertindak anpa mengenali keterbatasan sendiri dan bekerja tanpa supervisi. Tidak mau bertukar fikiran dalam kegiatan profesional dengan orang-orang lain
Penyaringan informasi
Berfokus pada pemikiran dan perasaan klien dalam interview dan tidak mengatakan ditel-ditel yang tidak relevan
Memusatkan perhatian yang sugguh-sungguh pada ditel-ditel yang tidak relevan bagi masalah klien. Suatu saat dapat mengabaikan perasaan dan pemikiran klien
Pengaruh antar pribadi
Menyadari sejauh mana responnya mempengaruhi klien dan sejauh mana respon klien mempengaruhi konselor
Kurang kesadaran akan pengaruh antar pribadi. Bahkan mungkin menyangkal/ mengingkari bahwa klien berpengaruh dalam proses konseling
Martabat manusia
Memperlakukan para klien dengan perhatian, kepedulian, dan ketulusan
Memperlakukan para klien secara tidak tulus, tanpa perhatian penuh, tanpa perasaan, dan mungkin dengan cara-cara yang merugikan/ membahayakan klien
Teori umum
Secara terlibat dengan pengujian diri dan wawasan pandangnya sendiri, menguasai secara mantap teori-teori baru, dan mengembangkan secara sistematis teori-teori konseling sendiri yang unik. Setelah mendalami (studi) mungkin memutuskan untuk sepakat atau menerima penuh suatu ancangan teoritis
Secara “membabi-buta (taklid) memakai satu jenis/ bidang teori tunggal dengan tiada pemikiran alternatif, atau tidak mampu sama sekali memaknakan secara sadar berbagai ancangan yang sistematis

D.          Kompetensi Konselor
1.    Keterampilan Interpersonal
Konselor yang efektif mampu mendemonstrasikan perilaku mendengar, berkomunikasi, empati, kehadiran (present), kesadaran komunikasi non verbal, sensitivitas terhadap kualitas suara, responsivitas terhadap ekspresi emosi, pengambilalihan, menstruktur waktu, menggunakan bahasa.
2.    Keyakinan dan Sikap Personal
Kapasitas untuk menerima yang lain, yakin adanya potensi untuk berubah, kesadaran terhadap pilihan etika dan moral. Sensitivitas terhadap nilai yang dipegang oleh klien dan diri.
3.    Kemampuan Konseptual
Kemampuan untuk memahami dan menilai masalah klien, mengantisipasi konsekuensi tindakan di masa depan, memahami proses kilat dalam kerangka skema konseptual yang lebih luas, mengingat informasi yang berkenaan dengan klien. Fleksibilitas kognitif, dan keterampilan dalam memecahkan masalah.
4.    Ketegaran Personal
Tidak adanya kebutuhan pribadi atau keyakinan irasional yang sangat merusak hubungan konseling, percaya diri, kemampuan untuk menolerasi perasaan yang kuat atau tak nyaman dalam hubungan dengan klien, batasan pribadi yang aman, mampu untuk menjadi klien. Tidak mempunyai prasangka sosial, etnosentrisme dan autoritarianisme.
5.    Menguasai Teknik
Pengetahuan tentang kapan dan bagaimana melaksanakan intervensi tertentu, kemampuan untuk menilai efektivitas intervensi, memahami dasar pemikiran di belakang teknik, memiliki simpanan intervensi yang cukup.
6.    Kemampuan untuk Paham dan Bekerja dalam Sistem Sosial
Termasuk kesadaran akan keluarga dan hubungan kerja dengan klien, pengaruh agensi terhadap klien, kapasitas untuk mendukung jaringan dan supervisi. Sensitivitas terhadap dunia sosial klien yang mungkin bersumber dari perbedaan gender, etnis, orintasi seks, atau kelompok umur.
7.    Terbuka untuk Belajar dan Bertanya
Kemampuan untuk waspada terhadap latar belakang dan masalah klien. Terbuka terhadap pengetahuan baru. Menggunakan riset untuk menginformasikan praktik.[7]

E.          Kreativitas Konselor Dalam Mengambil Keputusan
1.    Teori Konseling Mengenai Kreativitas
Kreativitas adalah kemampuan untuk memunculkan sesuatu yang baru dalam kondisi yang lama (mapan), bersifat spontan, dan kebebasan untuk mencipta. Mengenai kreativitas, beberapa teori konseling menjelaskan sebagai berikut:
a.    Psikodinamika dari Freud
Freud percaya bahwa mind (pikiran) terdiri dari tiga strata, yaitu:
1)   Conscious (kesadaran) berhubungan dengan dunia nyata: analitik dan perbuatan sebagai suatu organizir (organisator) antara inner-self (dunia dalam) dan outer-self (dunia luar)
2)   Unconscious (ketaksadaran): adalah tempat penyimpanan (gudang-repository) pemikiran-pemikiran ilogis, irrasional, naluriah, reaksi-reaksi emosional, dan semua pengalaman sejak lahir
3)   Proconscious (ambang sadar): tempat krusial dimana berada disini kreativitas. Preconscious ini menyelidiki informasi-informasi yang relevan, menarik, dan merangsang (suggestive) ke dalam dunia pikiran kesadaran (conscious), yang dapat digunakan dalam proses mengambil keputusan-keputusan di dunia kesadaran (conscious)
Menurut aliran psikodinamika, kreativitas adalah hasil dari unconscious (ketaksadaran) melalui usaha-usaha preconscious untuk mencapai dan mempengaruhi pembuatan keputusan oleh conscious.
b.    Teori Behavioral tentang Kreativitas
Dua tokoh behavioral yakni Reece dan Parnes (1975) mengembangkan program pelatihan untuk memecahkan masalah secara kreatif. Walaupun kreativitas adalah proses mistik yang disediakan untuk unconscious, tapi disediakan 28 buku untuk melatih komponen-komponen dari proses kreatif.
Hasilnya adalah bahwa kreativitas tidak harus dianggap sebagai suatu berkah yang aneh, akan tetapi yang jelas merupakan keterampilan yang dapat diajarkan.
c.    Teori Psikologi Eksistensial-Humanistik
Carl Rogers (1975) mengemukakan Teori Pertumbuhan Alamiah (Nature Growth) terhadap aktualisasi dan pertumbuhan diri untuk mencapai perkembangan potensi diri yang optimal. Dari pandangan ini, manusia pada dasarnya secara alamiah adalah kreatif. Dan peran pelatih (guru) adalah mendorong agar siswa secara spontan kreatif. Guru perlu menciptakan situasi kelas yang kondusif
2.    Posisi Kreativitas dalam Proses Konseling
Didalam proses konseling, pemikiran kreatif adalah amat penting baik terhadap konselor maupun klien. Maka konselor yang efektif bukan sama sekali karena sihir/ sulap akan tetapi adalah karena hasil kerja keras yang bertahun-tahun melalui studi sistematik dalam profesi konseling digabungkan pengalaman-pengalaman melalui observasi dan mendengarkan beragam-ragam klien di dalam setting kantor (formal) dan jalanan (informal)-office and street setting.
3.    Mengambil Keputusan
Tugas konselor adalah berupaya untuk membangkitkan alternatif-alternatif, membantu klien menghilangkan pola-pola lama yang tak baik memudahkan terjadinya proses mengambil keputusan, dan menemukan solusi-solusi yang mengarah untuk meecahkan masalah. Dalam proses konseling ada tiga tahapan konseling yakni:
a.    Tahap I (awal) : Mendefinisikan Masalah
Pengambil keputusan di tahap awal mengimplikasikan tiga fase aktivitas yakni:
1)   Mendefinisikan masalah
2)   Mempertimbangkan alternatif definiusi masalah
3)   Komitmen konselor-klien tentang definisi yang terbaik dari sekian alternatif
Proses mengambil keputusan itu dilukiskan sebagai berikut:

b.    Tahap II (Pertengahan) : Tahap Kerja



c.    Tahap III (Akhir) : Tahap Penentuan Keputusan untuk Bertindak
4.    Efektivitas Konselor dalam Wawancara Konseling
Proses konseling yang intensional (mendalam) dan efektif akan membantu klien untuk berkembang secara optimal. Sebaliknya jika proses konseling berjalan tidak efektif dan kurang mendalam, maka sudah dapat dipastikan akan gagal mencapai tujuan dan bahkan dapat merusak klien. Menurut hasil penelitian Hadley dan Stupp (1976) faktor-faktor penyebab yang bisa merusak klien adalah:
a.    Terlalu dalam konselor menggali klien
b.    Konselor terlalu hati-hati dalam menggali klien
c.    Aplikasi teknik
d.   Hubungan konseling
e.    Masalah komunikasi
f.     Fokus
g.    Kelemahan konselor
Konselor yang efektif mempunyai kemampuan melihat bagaimana keadaan klien saat ini, dan dapat memilih intervensi yang sesuai (strategi dan teknik) untuk menunjang kemampuan dan keterampilan konselor perlu kepribadian yang empati. Empati merupakan kunci menjadikan hubungan konseling berkualitas
Empati amat dekat dengan dimensi-dimensi konselor lainnya yaitu:
a.    Positive Regard (Menghargai dengan Positif)
Positive regard menuntut konselor agar menemukan asset dan kekuatan klien dan terus terang memberikan penghargaan terhadap keunggulan klien. Keunggulan adalah dunia nyata klien, karena itu harus dipahami konselor.
b.    Respect  dan Warmth (Hormat dan Hangat)
Jika anda mendemonstrasikan bahwa anda respek terhadap klien, yang anda lakukan adalah apakah anda mendorong atau mengembangkan potensi klien dengan ucapan-ucapan (verbal) anda, namun harus pula didukung oleh bahasa badan anda. Respek atau rasa hormat, penghargaan positif, dan kehangatan, bisa berkembang karena adanya dukungan rasa empati dari konselor.
c.    Warmth (Rasa Hangat)
Pada prinsipnya warmth berhubungan erat dengan empati. Warmth (rasa hangat) dapat didefinisikan sebagai suatu sikap emosional terhadap klien, yang dinyatakan dengan cara-cara nonverbal dan didukung dengan verbal.
d.   Concreteness (Kekonkritan-Bersikap Konkrit)
Wawancara konseling yang efektif bergerak dari deskripsi-deskripsi yang samar-samar tentang isu-isu global menuju diskusi yang konkrit, spesifik tentang apa yang telah terjadi dan yang terus terjadi dalam kehidupan keseharian klien
e.    Konfrontasi
Konfrontasi didalam proses konseling didefinisikan yaitu: menunjukkan adanya diskrepansi-diskrepansi (perbedaan) antara sikap-sikap, pemikiran-pemikiran, atau perilaku-perilaku. Dalam teknik konfrontasi, individu/ klien dihadapkan secara langsung dengan fakta, dimana klien mungkin mengatakan lain daripada yang dia maksud; atau melakukan yang lain/ berbeda dari apa yang dia katakan.
f.     Genuineness, Congruence, Authenticity (Keaslian, Jujur, Otentik)
Dalam hubungan konseling, seorang konselor harus tampil asli, jujur, pribadi yang terintegrasi. Dia tampil bebas dan mendalam, dan sadar atas dirinya sendiri. Konselor adalah benar-benar dirinya (otentik).[8]

BAB III
PENUTUP

Konselor adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam konseling. Sikap dan keterampilan merupakan dua aspek penting kepribadian konselor. Sikap sebagai suatu disposisi tidaklah tampak nyata, tidak dapat dilihat bentuknya secara langsung. Berbeda dengan sikap, keterampilan dapat tampak wujudnya dalam perbuatan.
Keterampilan Dasar Konselor yaitu kompetensi intelektual, kelincahan karsa-cipta, pengembangan keakraban. Kompetensi Konselor yaitu Keterampilan Interpersonal, Keyakinan dan Sikap Personal, Kemampuan Konseptual, Ketegaran Personal, Menguasai Teknik, Kemampuan untuk Paham dan Bekerja dalam Sistem Sosial, Terbuka untuk Belajar dan Bertanya.
Kreativitas adalah kemampuan untuk memunculkan sesuatu yang baru dalam kondisi yang lama (mapan), bersifat spontan, dan kebebasan untuk mencipta.


DAFTAR PUTAKA

S. Willis, Sofyan, 2004. Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta
McLeod, John. 2008. Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus. Jakarta: Kencana
Mappire AT, Andi. 1992. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Id.wikipedia.org./wiki/Konselor_pendidikan







[1] Id.wikipedia.org/wiki/Konselor
[2] Andi Mappire AT, Pengantar Konseling dan Psikoterapi, PT Raja Grafindo, Jakarta, 1992, hlm. 102
[3] Sheldon Eisenberg dan Daniel J. Delaney, The Counseling Process (Chicago: Rand Mc. Nally Publishing Company, 1977), hlm. 5-10
[4] Art. W. Comb, dkk., “Helping Relationships,” Boston :Allyn and Bacon, Inc., 1971. Seperti dikutip oleh John J. Pietrofesa, dkk., op.cit., hlm 38-39
[5] Allen E. Ivey, op.cit., hlm. 13
[6] Andi Mappire AT, Pengantar Konseling dan Psikoterapi, PT Raja Grafindo, Jakarta, 1992, hlm. 125
[7] John McLeod, Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus, Kencana, Jakarta, 2008, hlm. 535
[8] Prof. Dr. Sofyan S. Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek. Alfabeta, Bandung, 2004, hlm. 134

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar