Kamis, 12 April 2012

Masuknya Islam Ke Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang
Sebelum Islam masuk ke Indonesia, keadaan dan corak kehidupan masyarakat Indonesia sangat dipengaruhi oleh tata susunan kasta-kasta yang menjadikan kehidupan masyarakat terbagi menjadi kelas-kelas masyarakat. Kehidupan manusia tidak dapat bebas di dalam masyarakat dan tidak ada hak yang sama dalam pergaulan sesama hidup manusia.
Kepercayaan yang berkembang di Indonesia pada masa sebelum datangnya Islam yaitu Animisme, Dinamisme, Hinduisme, dan Budhisme. Pada waktu agama Islam masuk di Indonesia, keadaan kepercayaan Animisme, Hinduisme dan Budhisme masih sangat kuat. Banyak di antara kita tidak mengetahui pengetahuan tentang sejarah Islam di Indonesia. Maka dari itu, saya akan membahas tentang Sejarah Islam di Indonesia.

B.          Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dihadapi yaitu:
1.    Apa saja teori tentang negeri asal Islam di Indonesia?
2.    Apa saja teori tentang masa kedatangan Islam di Indonesia?
3.    Bagaimana kedatangan Islam dan cara penyebarannya?
4.    Bagaimanakah sejarah masuknya Islam dan perkembangan Islam di Indonesia?
5.    Bagaimana Kerajaan Islam yang berkembang di Indonesia?

C.          Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1.    Untuk mengetahui teori tentang negeri asal Islam di Indonesia
2.    Untuk mengetahui tentang masa kedatangan Islam di Indonesia
3.    Untuk mengetahui kedatangan Islam dan cara penyebarannya
4.    Untuk mengetahui sejarah masuknya Islam dan perkembangan Islam di Indonesia
5.    Untuk mengetahui kerajaan Islam yanng berkembang di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN

A.          Teori Tentang Negeri Asal Islam di Indonesia
Negeri asal masuknya agama Islam ke Indonesia, terdapat beberapa pendapat yang masih sekarang masih menimbulkan perdebatan. Terdapat tiga teori tentang negeri asal masuknya agama Islam di Indonesia, yaitu:
1.    Teori India
a.    Teori Pertama
Teori ini menyatakan bahwa Islam Indonesia berasal dari Gujarat dan Malabar. Pendapat ini dipelopori oleh Pijnapel, yang menelusuri Islam Indonesia kepada pengikut mazhab Syafi’i dari Gujurat dan Malabar. Apalagi kawasan ini sering disebut dalam sejarah purbakala Indonesia. Pendapat ini diikuti oleh ilmuan di belakangnya seperti W. F. Stutterheim, J. C. Van Leur, T. W. Arnold, Bernard H. M. Vlekke, Schrieke, dan Clifford Geertz.
b.    Teori Kedua
Teori yang menyatakan bahwa Islam Indonesia berasal dari India selatan, tepatnya dari Koromandel. Pendapat ini dipelopori oleh Snouck Hurgronje. Dia memperlihatkan pengaruh India Selatan dalam bidang sastera, tasawuf populer dan legenda-legenda agama suku-suku bangsa muslim di kepulauan Indonesia. Pendapat ini diperkuat oleh G. E. Marrison yang menyatakan bahwa Islam datang dari pantai Koromandel. Alasannya, Cambay pada tahun 1393 sebagai kota Hindu dan Gujarat baru jatuh ke tangan Muslim pada tahun 1297. Ia juga menyebutkan bahwa orang-orang Muslim sudah mapan selama berabad-abad di India Selatan, tanpa mempunyai kekuasaan politik, sebelum ekspansi kesultanan Delhi pada awal abad ke-14. Di samping itu, ia menyatakan bahwa mazhab Syafi’i tidak ghalib di Gujarat. Seluruh Hikayat Raja-raja Pasai mempunyai latar belakang yang sangat diwarnai oleh India Selatan.
2.    Teori Benggali
Teori Benggali berpendapat bahwa Islam Indonesia berasal dari Benggali (Bangladesh sekarang). Pendapat ini dikembangkan oleh S. Fatimi. Dengan bersandar kepada pendapat Marcopolo dan Tome Pires. S. Fatimi menyimpulkan bahwa Islamnya kerajaan Samudera Pasai berasal dari Benggali. Hal itu dikuatkannya dengan sudah terjalinnya hubungan niaga antara Benggali dan Samudera Pasai sejak zaman purba. Di samping itu, Benggali ditaklukkan orang-orang Muslim dan diislamkan pada kira-kira tahun 1200, satu abad sebelum Gujarat dan India Selatan.
Dalam bukunya Tome Pires juga menggambarkan tentang Samudera Pasai. Di Samudera Pasai banyak bermukim saudagar Moor dan India, yang terpenting adalah orang-orang Benggala. Keterangan Pires inilah yang merupakan titik pangkal pendapat bahwa Islam di Indonesia diimpor dari Benggala.
3.    Teori Arab
Adapun teori yang menyatakan Islam Indonesia berasal dari Arab, pertama kali dilontarkan oleh Crawfurd (1820), Keyzer (1859) kemudian diikuti oleh Niemann (1861), de Hollander (1981), dan Veth (1878). Crawfurd menyatakan, bahwa Islam Indonesia berasal dari Mesir, dengan alasan Mesir menganut Mazhab Syafi’i ; Hollander berpendapat dari Hadramut juga dengan alasan negeri itu menganut mazhab Syafi’i ; sedangkan Veth hanya menyebutkan bahwa Islam Indonesia dibawa oleh orang-orang Arab, tanpa menyebutkan tempat asal. Di Indonesia pendapat ini dipopulerkan oleh Hamka. Teori yang dikembangkan Hamka ini mendapatkan perhatian dan pembenaran dalam seminar-seminar yang membahas sejarah masuknya Islam di Indonesia, baik nasional maupun lokal.
Ilmuan lainnya adalah Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Dalam karangannya yang berjudul Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu dia menyatakan: “ Teori bahwa Islam itu datangnya dari India dan dibawa serta dan disebarkan oleh orang-orang India harus kita tolak dan singkirkan pengenaannya terhadap sejarah asal-usul Islam di sini ”. Dia berpendapat bahwa dalam teori India itu penekanan didasarkan atas ciri-ciri “luar”. Dia menganjurkan agar penelusuran asal-usul Islam di sini dilakukan melalui kenyataan-kenyataan “dalam”. Dan tulisan serta bahasa dan kesusasteraan yang benar-benar merupakan ciri yang sah untuk memutuskan perkara ini. Menurutnya, tidak satupun laporan, rujukan atau sebutan yang merujuk kepada penulis India atau kepada kitab yang berasal dari India dan digubah oleh orang India. Mubaligh-mubaligh lama Islam di daerah ini pun terdiri dari orang-orang Arab.[1]
    
B.          Teori Tentang Masa Kedatangan Islam di Indonesia
1.    Teori Pertama
Teori pertama, menyatakan bahwa Islam sudah datang di Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7/8 M. Di anatara ilmuan yang menganut teori ini adalah : J. C. Van Leur, T. W. Arnold, Hamka, Abdullah bin Nuh dan D. Shahab.
Di antara alasan yang dijadikan sandaran mereka adalah bahwa pada 674 di pantai Barat Sumatera telah terdapat perkampungan (koloni) Arab Islam. Bangsa Arab sudah aktif dalam lapangan perniagaan laut sejak abad-abad pertama Masehi. Mereka telah lama mengenal jalur perdagangan laut melalui Samudera Indonesia
2.    Teori Kedua
Teori kedua, menyatakan bahwa Islam datang di Indonesia pada abad ke-13. Di antara sejarawan yang menganut teori ini adalah C. Snouck Hurgronje. Pendapat ini kemudian diikuti oleh banyak sejarawan, seperti W. F. Stutterheim dan Bernard H. M. Vlekke. Pendapat ini di dasarkan pada batu nisan Sultan pertama dari Kerajaan Samudera Pasai, yakni al-Malik al-Saleh yang wafat pada 1297. Alasan lainnya adalah keterangan Marcopolo yang menyatakan bahwa di Perlak pada tahun 1292, penduduknya telah memeluk agama Islam. Namun, dia menyatakan bahwa Perlak merupakan satu-satunya daerah Islam di Nusantara ketika itu.[2]

C.          Kedatangan Islam dan Cara Penyebarannya
Kedatangan Islam dan cara penyebarannya di kalangan golongan bangsawan dan rakyat umumnya, ialah dengan cara damai, melalui perdagangan dan dakwah yang dilakukan para pedagang, mubaligh-mubaligh atau orang-orang alim.
Indonesia sekarang merupakan negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Penyebaran Islam di Indonesia diakui dengan cara-cara damai. Saluran-saluran islamisasi dan cara pelaksanaannya tentu tidak sedikit. Saluran-saluran itu saling berkaitan, sehingga saluran yang satu memperkuat saluran yang lain. Misalnya saluran perdagangan diperkuat dengan saluran perkawinan, saluran-saluran tasawuf diperkuat dengan saluran pendidikan, dan seterusnya.
Saluran-saluran itu diantaranya adalah:
1.    Saluran Perdagangan
Saluran perdagangan sejalan dengan kesibukan lalu lintas perdagangan abad ke-7 hingga abad ke-16. Pada saat itu pedagang-pedagang muslim turut serta ambil bagian dalam perdagangan dengan di kawasan Indonesia. Penggunaan perdagangan sebagai saluran islamisasi dimungkinkan karena dalam Islam tidak ada pemisahan antara kegiatan berdagang dan kewajiban dakwah. Proses Islamisasi melalui saluran perdagangan dipercepat oleh situasi dan kondisi politik beberapa kerajaan di mana adipati-adipati pesisir berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pusat kerajaan yang sedang mengalami kekacauan dan perpecahan. Mula-mula mereka berdatangan di pusat-pusat perdagangan dan di antaranya kemudian ada yang tinggal, baik untuk sementara waktu maupun menetap. Lambat laun tempat tinggal mereka berkembang menjadi perkampungan, yang disebut Pekojan. Lingkungan mereka makin luas dan dengan cara demikian lambat laun timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan muslim.
2.    Saluran Perkawinan
Melalui saluran perkawinan antara pedagang atau saudagar dengan wanita pribumi juga merupakan bagian yang erat berjalinan dengan Islamisasi. Perkawinan merupakan salah satu saluran Islamisasi yang lebih menguntungkan lagi apabila terjadi antara saudagar, ulama atau golongan lain, dengan anak bangsawan atau anak raja dan adipati, karena status sosial-ekonomi, terutama politik raja-raja, adipati-adipati, dan bangsawan-bangsawan pada waktu itu turut mempercepat proses Islamisasi.
3.    Saluran Tasawuf
Tasawuf juga merupakan salah satu saluran penting dalam proses Islamisasi. Para guru terekat memegang peranan penting juga dalamorganisasi masyarakat kota-kota pelabuhan. Mereka adalah guru-guru pengembara yang mengajarkan teosofi yang telah bercampur, yang dikenal luas oleh bangsa Indonesia tetapi yang sudah menjadi keyakinannya. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Mereka siap untuk memelihara kelanjutan dengan masa lampau dan menggunakan istilah-istilah dan anasir-anasir budaya pra-Islam dalam hubungan Islam. Di antara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran mistik Indonesia-Hindu adalah Hamzah al-Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani di Aceh, Syekh Lemah Abang dan Sunan Panggung di Jawa.
4.    Saluran Pendidikan
Kecuali melalui Tasawuf, Islamisasi juga dilakukan melalui lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan Islam sudah berdiri sejak pertama kali Islam datang ke Indonesia. Di Aceh lembaga-lembaga pendidikan Islam itu mengambil bentuk yang beragam sehingga memunculkan beberapa nama, seperti meunasah, dayah dan rangkang. Di Sumatera Barat dikenal lembaga pendidikan Islam surau. Di Kalimantan dikenal lembaga pendidikan Islam langgar. Sementara di Jawa dikenal pondok dan pesantren. Belum lagi kalau dimasukkan ke dalam kriteria lembaga pendidikan Islam pengajian-pengajian al-Qur’an yang berlangsung di rumah-rumah alim ulama.
Di lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut dilangsung pembinaan calon guru-guru agama, kyai-kyai atau ulama-ulama. Setelah menamatkan pendidikan, mereka kembali ke kampung masing-masing atau ke desa-desanya, tempat mereka menjadi tokoh keagamaan.
5.    Saluran Kesenian
Saluran dan cara Islamisasi lain dapat pula melalui cabang-cabang kesenian seperti seni bangunan, seni pahat dan ukir, seni tari, seni musik dan seni sastra. Dengan kesenian ini dimaksudkan bahwa jenis-jenis kesenian pra-Islam tetap dipertahankan, sehingga penduduk Indonesia tidak merasa asing masuk ke dalam lingkungan Islam. Di antara karya seni yang terkenal dijadikan alat Islamisasi adalah pertunjukan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi minta agar para penonton mengikutinya mengucapkan Kalimat Syahadat, yang berarti dengan demikian orang menjadi masuk Islam. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi sedikit demi sedikit nama tokoh-tokohnya diganti menjadi nama-nama pahlawan Islam.

D.          Sejarah Masuknya Islam dan Perkembangan Islam di Indonesia
1.    Sumatera
a.    Pantai Barat Pulau Sumatera
Sesuai dengan keputusan “Seminar Masuknya Islam ke Indonesia” yang diadakan di Medan tahun 1963, maka tempat yang mula-mula masuknya Islam di Pulau Sumatera adalah “Pantai Barat Sumatera”. Dari sana berkembang ke daerah-daerah lainnya. Beberapa ahli yang berpendapat tentang masuknya Islam di Sumatera pada abad Ke-7 M itu yaitu: Sayed Alwi bin Tahih al Haddad Mufsi, H. M. Zaenuddin, Zainal Arifin Abbas
b.    Samudera Pasai
Agama Islam berkembang di Indonesia mula-mula di Pasai Aceh Utara. Para pembawa agama Islam ini mula-mula berda’wah di kalangan rakyat biasa lewat perdagangan. Dengan kesopanan dan keramahan orang Arab yang berda’wah itu, maka penduduk Pasai sangat terkesan dan akhirnya menyatakan diri masuk Islam. Begitu pula Raja dan para pemimpin negeri masuk Islam.
Maka berdirilah Kerajaan Islam pertama kali di Pasai. Pada saat itu, tiba masanya perkembangan Islam khususnya di daerah Aceh dan Sumatera Utara untuk memperluas penyiaran Islam. Maka berkembanglah Islam dari Pasai ke Malaka, Tapanuli, Riau, Minangkabau, Kerinci dan ke daerah-daerah lainnya. Kerajaan Islam Pasai berdiri sekitar tahun 1297, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Serambi Makkah”.
c.    Sumatera Barat
Setelah agama Islam berkembang di Pasai, tidak lama sesudah itu tersebar pula ke daerah-daerah lain yaitu ke Pariaman Sumatera Barat. Islam datang ke Pariaman dari Pasai dengan melalui laut “Pantai Barat Pulau Sumatera”. Ulama yang terkenal membawa Islam ke Pariaman itu adalah Syekh Burhanuddin. Penyiaran agama Islam dilakukan secara pelan-pelan dan bertahap, sebab adat di Sumatera Barat sangat kuat.
Sebagai bukti bahwa agama Islam diterima oleh masyarakat Sumatera Barat dengan kerelaan dan kesadaran adalah dengan populernya pepatah yang mengatakan : “Adat bersendi syara”, syara bersendi Kitabullah”. Jadi adat istiadat yang sangat dipegang teguh oleh masyarakat Sumatera Barat itu adalah “Adat yang bersendikan Islam” artinya Islam menjadi dasar adat.
d.   Sumatera Selatan
Sekitar tahun 1440 agama Islam masuk ke Sumatera Selatan. Mubaligh yang paling berjasa membawa Islam ke Sumatera Selatan adalah Raden Rahmat (Sunan Ampel). Arya Damar yang terkenal dengan nama Aryadillah (Abdillah) adalah Bupati Majapahit di Palembang waktu itu, kemudian Raden Rahmat (Sunan Ampel) memberi saran kepada Abdillah agar bersedia menyebarkan agama Islam di Sumatera Selatan. Atas rahmat dan petunjuk Allah, saran Raden Rahmat tersebut dilaksanakan oleh Ardillah, sehingga agama Islam di Sumatera Selatan berkembang dengan baik.[3]
2.    Jawa
Menurut berita Tionghoa pada tahun 1416 M di tanah Jawa sudah banyak orang Islam, tetapi orang asing. Hal ini dapat dikaitkan dengan wafatnya seorang mubaligh Islam yang mula-mula menyiarkan Islam di Jawa, yaitu Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419)
Sebelum Maulana Malik Ibrahim ke tanah Jawa, rupanya telah banyak pedagang-pedagang Islam yang berniaga sambil menyiarkan agama Islam. Hal ini dikuatkan dengan diketemukan makam dari seorang wanita Islam yang bernama Fatimah binti Maimun yang wafat pada tahun 475 H/1082 M dimakamkan di Gresik.
Dalam mengupas tersebarnya Islam di Jawa tidaklah lengkap rasanya bila tidak mengemukakan “Wali Songo” sebagai mubaligh-mubaligh ternama di tanah Jawa. Para wali itu sangat besar jasanya dalam penyiaran Islam di Jawa, walaupun banyak rintangan yang mereka hadapi, namun dengan ketekunan, kebijaksanaan dan perjuangan mereka, Islam bisa masuk ke pelosok-pelosok tanah Jawa.[4]
3.    Kalimantan
a.    Kalimantan Selatan
Di pulau Kalimantan, agama Islam mula-mula masuk di Kalimantan Selatan. Nama kotanya adalah Banjarmasin. Pembawa agama Islam ke Kalimantan Selatan ini adalah para pedagang bangsa Arab dan para mubaligh dari pulau Jawa. Perkembangan agama Islam di Kalimantan Selatan itu sangat pesat dan mencapai puncaknya setelah kerajaan Majapahit runtuh tahun 1478.
b.    Kalimantan Barat
Daerah lainnya di Kalimantan yang dimasuki agama Islam adalah kalimantan Barat. Islam masuk ke Kalimantan Barat itu mula-mula di daerah Muara Sambas dan Sukadana. Dari dua daerah inilah baru kemudian tersebar ke seluruh Kalimantan Barat. Pembawa agama Islam ke daerah Kalimantan Barat adalah para pedagang dari Johor (Malaysia) dan Mubaligh dari Palembang (Sumatera Selatan).
Sultan Islam yang pertama (tahun 1591) di Kalimantan Barat berkedudukan di Sukadana yaitu Panembahan Giri Kusuma. Sedang Sultan Sukadana yang kedua Sultan Muhammad Safiuddin (1677).[5]
4.    Sulawesi
Islam masuk ke Sulawesi pada awal abad XVI M dimulai dari Sulawesi Selatan. Hal ini dikaitkan bahwa pada tahun 1540 M di Sulawesi Selatan telah dijumpai pemeluk-pemeluk Islam, terutama suku Bugis dan Makasar. Kerajaan di Sulawesi Selatan yang mula-mula menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan ialah Kerajaan Goa dan Tallo. Raja Tallo yang merangkap pekerjaan sebagai Mangkubumi kerajaan Goa, dan menerima Islam sebagai agamanya adalah Malingkrang Daeng Manyari. Sesudah memeluk agama Islam, beliau bergelar Sultan Abdullah Awwalalul Islam. Selanjutnya Raja Goa ke XIV Baginda I Manggerengi Daeng Manrabia juga memeluk Islam, lalu berganti nama menjadi Sultan Alaudin. Dengan masuk Islamnya raja-raja Tallo dan Goa, maka rakyat segera mengikutinya. Dan dalam waktu dua tahun seluruh rakyat Goa dan Tallo di-Islamkan. Adapun mubaligh yang berjasa dalam meng-Islamkan raja dan rakyat Goa dan Tallo adalah Abdul Qadir Khatib Tunggal, berasal dari Minangkabau dan diperkirakan pernah menjadi murid Sunan Giri.[6]
5.    Nusa Tenggara
Pada tahun 1540 agama Islam masuk pula ke Nusatenggara. Masuknya agama Islam ke Nusatenggara dibawa oleh para mubaligh dari Bugis (Sulawesi Selatan) dan mubaligh dari pulau Jawa.
Agama Islam berkembang di Nusatenggara mula-mula di daerah Lombok yang penduduknya disebut suku Sasak. Agama masuk Lombok dengan damai atas jasa dari mubaligh-mubaligh  orang Bugis yang masyhur pandai berlayar dan berdagang itu. Secara berangsur-angsur akhirnya penduduk Lombok mayoritas beragama Islam. Dari daerah Lombok, secara pelan-pelan selanjutnya tersebar pula ke daerah-daerah Sumbawa dan Flores
Yang berjasa besar untuk meng-Islamkan penduduk Nusa tenggara itu ialah pedagang-pedagang Bugis dari Sulawesi Selatan, dan ada pula pedagang dan mubaligh dari Jawa. Peng-Islaman di Nusatenggara dengan lancar dan dapat mencapai prosentasi yang tinggi ialah di Lombok dan Sumbawa.
Lebih dari itu Sumbawa berhasil mendirikan kerajaan Islam yang berpusat di Bima. Pengembangan agama Islam di Bima sejak awal abad ke-16, penyiarannya datang dari dua arah yaitu dari Jawa dan dari Sulawesi Selatan.
Yang berhasil meng-Islamkan penduduk Flores ialah : kaum muslimin Bugis dengan jalan mempelajari Bahasa Flores dengan menyesuaikan adat istiadat di sana. Dengan demikian penduduk Flores banyak yang masuk Islam sekalipun mereka sudah beragama Katholik.[7]

E.          Kerajaan Islam yang Berkembang di Indonesia
1.    Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam yang pertama kali di Indonesia. Kerajaan Samudera Pasai yang terletak di Lhokseumawe berdiri pada abad ke-13. Raja pertama yaitu Sultan Malik Al Saleh yang memerintah tahun 1297. Banyak pdagang muslim Arab dan Gujarat yang tinggal di Samudera Pasai sehingga Samudera Pasai berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Indonesia. Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1345 mengalami kemunduran pada masa sepeninggal Sultan Ahmad. Hal ini disebabkan oleh terdesaknya perdagangan Samudera Pasai oleh Malaka.
2.    Kerajaan Aceh
Kerajaan  Aceh berdiri pada awal abad ke-16 yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah setelah berhasil melepaskan diri dari kerajaan Pedir. Kerajaan Aceh mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Wilayah kekuasaan kerajaan Aceh bertambah luas hingga ke Deli, Nias, Bintang, Johar, Pahang, Perah, dan Kedah. Dalam upayanya memperluas wilayah ternyata diikuti dengan upaya penyebaran agama Islam sehingga daerah-daerah yang dikuasai Kerajaan Aceh akhirnya menganut Islam. Corak pemerintahan Kerajaan Aceh memiliki ciri khusus yang di dasarkan pemerintahan sipil dan agama. Hukum adat dijalankan berlandaskan Islam yang disebut Adat Maukta Alam. Setelah Sultan Iskandar Muda meninggal Aceh mengalami kemunduran.
3.    Kerajaan Demak
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah pada akhir abad 15, setelah berhasil melepaskan diri dari pengaruh kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam yang berdiri di Pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Raden Patah, Demak mengalami perkembangan pesat.. Kerajaan Demak dengan bantuan wali sanga berkembang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa pada masa inilah Masjid Agung Demak dbangun.
4.    Kerajaan Pajang
Kerajaan Pajang didirikan oleh Joko Tingkir yang telah menjadi raja bergelar Sultan Hadiwijaya. Pada masa pemerintahannya, kerajaan mengalami kemajuan. Pengganti Sultan Hadiwijaya adalah putranya bernama pangeran Benowo. Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan Arya Pangiri ( Putra Sultan Prawoto ). Akan tetapi pemberontakan tersebut dapat ditumpas oleh Sutawijaya ( Putra Ki Ageng Pemanahan ). Pangeran Benowo selanjutnya menyerahkan pemerintahan Pajang kepada Sutawijaya. Sutawijaya kemudian memindahkan pemerintahan Pajang ke Mataram.
5.    Kerajaan Mataram Islam
Kerajaan Mataram Islam berdiri tahun 1586 dengan raja yang pertama Sutawijaya (1586-1601). Pengganti Sutawijaya yaitu Mas Jolang (1601-1613). Dalam usahanya mempersatukan kerajaan-kerajaan Islam di Pantai untuk memperkuat kedudukan politik dan ekonomi Mataram. Sepeninggal Mas Jolang, kerajaan Mataram kemudian diperintah Sultan Agung pada masa inilah Mataram mencapai puncak kejayaan. Wilayah Mataram bertambah luas meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Sepeninggal Sultan Agung tahun 1645, kerajaan mataram mengalami kemunduran sebab penggantinya cenderung bekerjasama dengan VOC.
6.    Kerajaan Cirebon
Kerajaan Cirebon didirikan oleh Fatahillah setelah menyerahkan Banten kepada puteranya. Pada masa pemerintahan Fatahillah (Sunan Gunung Jati) perkembangan agama Islam di Cirebon mengalami kemajuan pesat. Pengganti Fatahillah setelah wafat adalah penembahan Ratu, tetapi kerajaan Cirebon mengalami kemunduran. Pada tahun 1681 kerajaan Cirebon pecah menjadi dua, yaitu Kasepuhan dan Kanoman.
7.    Kerajaan Makasar
Kerajaan Makasar yang berdiri pada abad 18 pada mulanya terdiri dari dua kerajaan yaitu kerajaan Goa dan Tallo (Gowa Tallo). Raja Gowa Daeng Meurabia menjadi raja Gowa Tallo bergelar Sultan Alaudin dan Raja Tallo Karaeng Matoaya menjadi patih bergelar Sultan Abdullah. Kerajaan Gowa Tallo (Makasar) akhirnya dapat berkembang menjadi pusat perdagangan.
8.    Kerajaan Ternate
Kerajaan Ternate berdiri pada abad ke-13 yang beribu kota di Sampalu. Agama Islam mulai disebarkan di Ternate pada abad ke-14. Pada abad ke-15 Kerajaan Ternate dapat berkembang pesat oleh kekayaan rempah-rempah dan kemajuan pelayaran serta perdagangan di Ternate. Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Pada saat itu wilayah kerajaan Ternate sampai ke daerah Filipina bagian selatan bersamaan pula dengan penyebaran agama Islam. Oleh karena kebesarannya, Sultan Baabullah mendapat sebutan “Yng dipertuan” di 72 Pulau.
9.    Kerajaan Tidore
Kerajaan Tidore berdiri abad ke-13 hampir bersamaan dengan kerajaan Ternate. Pada awalnya Ternate dan Tidore bersaing memperebutkan kekuasaan perdagangan di Maluku. Lebih-lebih dengan datangnya Portugis dan Spanyol di Maluku. Akan tetapi kedua kerajaan tersebut akhirnya bersatu melawan kekuasaan Portugis di Maluku. Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Pada masa pemerintahannya berhasil memperluas daerahnya sampai ke Halmahera, Seram dan Kai sambil melakukan penyebaran agama Islam.[8]








BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Negeri asal masuknya agama Islam ke Indonesia, terdapat beberapa pendapat yang masih sekarang masih menimbulkan perdebatan. Terdapat tiga teori tentang negeri asal masuknya agama Islam di Indonesia, yaitu Teori India : Teori Pertama, teori ini menyatakan bahwa Islam Indonesia berasal dari Gujarat dan Malabar. Teori Kedua, teori yang menyatakan bahwa Islam Indonesia berasal dari India selatan, tepatnya dari Koromandel. Teori Benggali, teori Benggali berpendapat bahwa Islam Indonesia berasal dari Benggali (Bangladesh sekarang). Teori Arab, teori yang menyatakan Islam Indonesia berasal dari Arab
Adapun teori tentang masa kedatangan Islam di Indonesia, yaitu: Teori Pertama, menyatakan bahwa Islam sudah datang di Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7/8 M. Teori Kedua, menyatakan bahwa Islam datang di Indonesia pada abad ke-13
Saluran-saluran penyebaran agama Islam yaitu diantaranya adalah saluran perdagangan, saluran perkawinan, saluran tasawuf, saluran pendidikan, dan saluran kesenian
Sejarah masuknya Islam dan perkembangan Islam di Indonesia, melalui: Sumatera: Pantai Barat Pulau Sumatera, Samudera Pasai, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan, Jawa, Kalimantan: Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat, Sulawesi, Nusa Tenggara.
Kerajaan Islam yang berkembang di Indonesia, yaitu Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Aceh, Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram Islam, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Makasar, Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore.




DAFTAR PUSTAKA

Yatim, Badri. 1998. Sejarah Islam Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama
Rasyidi, Badri dkk. 1987. Sejarah Islam 4. Bandung: CV. Armico
Syafi’i, A. 1987. Sejarah dan Kebudayaan Islam 2. Bandung: CV. Armico
http://unsilster.com/2011/02/contoh-makalah...


[1] Badri Yatim, Sejarah Islam Indonesia, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, Jakarta, 1998, hlm. 20
[2] Badri Yatim, Sejarah Islam Indonesia, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, Jakarta, 1998, hlm. 28
[3] Badri Rasyidi dkk, Sejarah Islam 4, CV. Armico, Bandung, 1987,  hlm. 19
[4] A. Syafi’i, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, CV. Armico, Bandung, 1987, hlm. 32
[5] Badri Rasyidi dkk, Sejarah Islam 4, CV. Armico, Bandung, 1987,  hlm. 22
[6] A. Syafi’i, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, CV. Armico, Bandung, 1987, hlm. 32
[7] Badri Rasyidi dkk, Sejarah Islam 4, CV. Armico, Bandung, 1987,  hlm. 25
[8] unsilster.com/2011/02/contoh-makalah...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar