Kamis, 12 April 2012

Metode, Pendekatan dan Teknik


BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang
Bahasa Arab amat penting sekali bagi kita kaum Muslimin, karena ucapan kita dalam sembahyang dengan Bahasa Arab dan Kitab suci kita yaitu Al-Qur’an dalam bahasa Arab.
Guru sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini serta jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Harus mampu memberikan pengajaran Bahasa Arab kepada peserta didik.
Pengajaran itu merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan kecermatan karena ia sama halnya dengan pelatihan kecakapan yang memerlukan kiat, strategi dan ketelatenan, sehingga menjadi cakap dan profesional.
Penerapan metode pengajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien sebagai media pengantar materi pengajaran bila penerapannya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai tentang metode itu. Sehingga metode bisa saja akan menjadi penghambat jalannya proses pengajaran, bukan komponen yang menunjang pencapaian tujuan, jika tidak tepat aplikasinya. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami dengan baik dan benar tentang metode serta pendekatan dan tekniknya.

B.          Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang dihadapi yaitu:
1.    Bagaimanakah pendekatan pengajaran Bahasa Arab?
2.    Apa saja metode-metode pengajaran Bahasa Arab?
3.    Bagaimana teknik-teknik yang digunakan dalam pengajaran Bahasa Arab?

C.          Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1.    Untuk mengetahui pendekatan yang digunakan dalam pengajaran Bahasa Arab
2.    Untuk mengetahui berbagai metode yang digunakan dalam pengajaran Bahasa Arab
3.    Untuk mengetahui teknik-teknik yang digunakan dalam pengajaran Bahasa Arab
BAB II
PEMBAHASAN

A.          Pendekatan Pengajaran Bahasa Arab
Pendekatan, approach atau                   adalah “ Suatu pernyataan pendirian, filsafat dan keyakinan.” Approach ialah sesuatu yang bersifat aksioma (jelas kebenarannya) yang diyakini, walaupun kebenaran itu tidak mesti dapat dibuktikan. Kongkritnya, approach dalam pengajaran bahasa terdiri dari serangkaian asumsi mengenai hakikat bahasa dan pembelajarannya. “ Misalnya asumsi dari aural-oral approach menyatakan bahwa “ Bahasa itu apa yang kita dengar dan yang kita ucapkan. Sedangkan tulisan hanyalah  representasi (pencerminan) dari ucapan itu.”
Yang tergolong dalam bidang approach di bidang pengajaran bahasa asing menurut Dr. Rusyadi Tu’aimah, ada empat macam yaitu:
1.             Humanistik Approach, pendekatan manusiawi
a.    Pengertian
Pendekatan manusiawi (Humanistic Approach) sangat memperhatikan peserta didik/murid bahwa ia sebagai manusia, bukan alat sebagai alat atau benda mati yang menerima rangsangan-rangsangan dan menjawabnya.
Hal seperti ini merupakan orientasi baru bagi para ahli pengajaran bahasa asing, juga mengajarkan bahasa-bahasa asing bagi mereka sebagaimana diketahui bertujuan mempererat hubungan antar umat manusia yang memiliki berbagai kebudayaan.
b.    Tujuan
Para ahli berpendapat bahwa memperhatikan kepuasan kebutuhan psykologis murid adalah suatu hal yang perlu didahulukan daripada menyambut aspirasi fikiran mereka
2.             Media-Based Approach, pendekatan sarana dasar (teknik)
a.    Pengertian
Pendekatan Teknik (Media Based Approach) adalah dalam mengajarkan bahasa asing mengandalkan kepada sarana dan teknik mengajar. Sebagaimana diketahui bahwa sarana atau alat peraga (alat bantu) besar peranannya dalam menyampaikan keahlian dan mengubahnya dari keahlian abstrak kepada keahlian yang kongkrit.
b.    Tujuan
Pendekatan teknik ini bertujuan melengkapi konteks yang menjelaskan makna kata-kata, struktur dan istilah-istilah kebudayaan baru melalui gambar, peta, foto, contoh model yang hidup, kartu dan segala sesuatu yang membantu menjelaskan makna kata asing kepada murid.
3.             Analytical dan Non Analytical Approach, pendekatan analisis dan non analisis
a.    Pengertian dan asas-asasnya
Pendekatan analisis disebut juga “formal approach” (                                  ) yang berlandaskan kepada pertimbangan kebahasaan bahasa yang bersifat sosial (sosiolinguistics). Pendekatan ini mementulkan orientasi aliran sastra tentang analisis bentuk-bentuk percakapan, pidato dan teori komunikasi lisan.
1)   Analisis
                                                      a)       Pengertian linguistik di jadikan sebagai dasar
                                                      b)      Berdasarkan kepada pembahasan sosiolinguistik, semantik, aktifitas bicara, analisis sistem, dan pengertian-pengertian pikiran serta fungsi
                                                      c)       Menuntut penganalisaan kebutuhan linguistik, program bahasa baru dan program profesional yang didasarkan kepada silabus
2)   Non Analisis
a)    Pengertian Ilmu Jiwa Bahasa (psycholinguistic) dan pengertian pendidikan, dijadikan sebagai asas, bukan pengertian kebahasaan
b)   Bersifat sebagai pendekatan global, integral dan alami
c)    Menuntut pengajaran bahasa pada situasi-situasi kehidupan yang alami dan difokuskan kepada topik-topik pembicaraan yang berkaitan dengan kehidupan murid
b.    Persamaannya
Analisis dan non analisis mempunyai kesamaan yaitu terletak pada sama-sama menuntut persiapan materi baru.
4.             Communicative Approach (Pendekatan Komunikatif)
a.    Pengertian
Pendekatan komunikatif yaitu mengajarkan bahasa dengan sasaran mampu berkomunikasi aktif dan praktis.
b.    Tujuan dan sasaran
Melatih murid-murid menggunakan bahasa secara spontanitas dan kreatif, disamping penguasaan qawaid.
c.    Langkah-langkah Kegiatan Belajar Pendekatan Komunikatif
Guru mengemukakan contoh dialog pendek, melontarkan sekelompok pertanyaan yang mengacu kepada dialog, siswa disuruh menganalisis secara merata tentang qawaid, siswa menafsirkan pola-pola bahasa dan penilaian.[1]

B.          Metode Pengajaran Bahasa Arab
Metode (                              ) adalah “Prosedur atau rencana menyeluruh yang berhubungan dengan penyajian materi pelajaran secara teratur dan serasi serta tidak saling bertentangan satu sama lain berdasarkan suatu approach.”
Definisi lain mengatakan, metode adalah “Orientasi yang diikuti guru dalam kegiatan pembelajaran setelah memilih cara-cara yang akan ditempuhnya dan menyiapkan persiapan-persiapan serta materi pengajaran yang telah diatur dan menetapkan sarana-sarana yang memungkinkannya menyampaikan materi itu kepada murid.
Faktor-faktor yang mempengaruhi metode antara lain : tujuan, materi dan latar belakang siswa.[2]
Macam-macam metode, yaitu:
1.    Metode Qawaid – Terjemah
a.              Pengertian
Metode Qawaid dan terjemah atau tariiqatul al Qowaid Wa Tarjamah atau Grammatical Translation method adalah metode mempelajari bahasa asing (bahasa arab) yang menekankan pemahaman qawaid untuk mencapai keterampilan membaca, menulis dan menerjemah. Metode ini kurang memperhatikan aspek menyimak dan berbicara. Kepincangan atau kekurangan inilah yang menjadi bahan kritikan para penganut metode lain. Dan metode ini dijuluki orang-orang kontra dengan julukan “Metode Tradisional”
b.             Ciri-ciri khusus
Ciri-ciri yang menonjol dari metode Qowaid dan Terjemah, yaitu:
1)   Memperhatikan keterampilan membaca, menulis dan menerjemahkan
2)   Menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar
3)   Memperhatikan hukum-hukum Nahwu
4)   Guru sering mengajak muridnya menganalisis bahasa tentang kalimat tertentu
Pendekatan atau metode Qowaid dan terjemah ini menerima banyak kritikan, karena:
1)   Melalaikan keterampilan berbicara yang merupakan keterampilan utama yang tidak patut dilalaikan
2)   Menggunakan bahasa Ibu sebagai bahasa penghantar sehingga bahasa arab jarang diucap (guna) kan
3)   Analisis hukum-hukum nahwu termasuk dalam analisis ilmiah bahasa bukan dalam memperdalam bahasa sebagai sesuatu keterampilan
c.              Tujuan Qawaid Terjemah
Metode Qawaid – Terjemah (grammer translation method) bertujuan “Menghasilkan murid-murid yang berbudaya tinggi dan memiliki daya intelegensi yang terlatih dalam memahami teks-teks yang penuh dengan kultur yang dikandung teks bahasa fusha.
d.             Prosedur pengajarannya
1)   Mengajarkan hasil-hasil tulisan (sastra) dalam bahasa Fusha (klasik)
2)   Memahami teks yang dibaca. Untuk itu murid menganalisis nahwu dan shorof serta makna mufradat kemudian menerjemahkannya
3)   Mengajarkan cara menulis artikel (mengarang) dengan gaya bahasa fusha[3]

2.    Metode Langsung
a.              Pengertian
Metode langsung (                                       ) muncul sebagai reaksi metode qowaid dan terjemah yang memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang mati. Seruan-seruan yang mengajak untuk menjadikan bahasa asing (bahasa arab) sebagai bahasa yang hidup muncul sejak tahun 850. Dan seruan ini menuntut perubahan-perubahan mendasar dalam cara mengajarkan bahasa asing (bahasa arab). Setelah itu, istilah yang tersiar secara cepat adalah metode langsung, yaitu metode yang memprioritaskan keterampilan berbicara sebagai ganti keterampilan membaca, menulis dan menerjemah.[4]
Penekanan metode ini adalah pada latihan percakapan terus-menerus antara guru dan peserta didik dengan menggunakan bahasa Arab tanpa sedikitpun menggunakan bahasa ibu, baik dalam menjelaskan makna kosa-kata maupun menerjemah.[5]
b.             Ciri-ciri khusus
Di antara ciri khusus metode/pendekatan langsung adalah:
1)   Memprioritaskan berbicara sebagai ganti keterampilan membaca, menulis dan terjemah
2)   Menjauhi dan menganggap tidak perlu menerjemahkan ke dalam bahasa ibu. Dengan kata lain bahasa ibu tidak mempunyai tempat sama sekali
3)   Menerangkan makna kata tau kalimat yang sulit dengan Bahasa Arab lagi melalui bermacam-macam cara. Diantaranya menjelaskan maksud kata/kalimat, menyebut sinonimnya, menyebut lawannya dan seterusnya
4)   Menggunakan perbandingan langsung anatara kata dan makna/maksudnya (dalam Bahasa Arab lagi). Juga perbandingan langsung anatara kalimat dengan situasinya. Oleh karena butir 4 dan 3, metode ini dinamai metode langsung
5)   Menggunakan tekhnik menirukan dan hafalan, di mana murid-murid mengulang-ngulang kalimat-kalimat, lagu-lagu dan percakapan yang membantu mereka memantapkan bahasa sasarannya
c.              Sasarannya
Sasaran metode langsung adalah memberikan murid kemampuan berfikir dengan bahasa sasaran, baik dalam berbicara maupun dalam membaca dan menulis.
d.             Prosedur Pengajarannya
Semua kegiatan dengan menggunakan Bahasa asing (Arab). Program bahasa disertai dengan mempelajari kata-kata dan kalimat-kalimat dalam Bahasa Arab.
Dalam menjelaskan makna kata, metode ini mengikuti tekhnik-tekhnik berikut:
1)            Menunjukkan benda-benda konkrit yang merupakan makna-makna kata yang dimaksud seperti pulpen, buku dan sebagainya. Untuk menjelaskan makna misal :     
2)            Mendemonstrasikan perbuatan untuk menjelaskan kalimat sebagai contoh : guru membuka pintu untuk menjelaskan
3)            Main peran seperti dokter memeriksa pasien
4)            Menyebut lawan kata (                                                  )
5)            Menyebut synonim (                                   )
6)            Asosiasi, seperti  menyebut kata yang mengingatkan pikiran menyebut kata lain, seperti ketika menyebutkan kata          terpanggil kata       -         -             -                 dll
7)            Menyebut induk kalimat dan musytaqnya, seperti              berasal dari           dst
8)            Menjelaskan maksud kata atau kalimat
9)            Khusus untuk tingkat menengah dan tingkat perguruan tinggi, peserta didik disuruh mencari di kamus-kamus Arab
10)        Menerjemahkan ke dalam bahasa pengantar (untuk anda Bahasa Indonesia)
e.              Pemikiran dan Sikap
Memang metode langsung ini menampilkan bahasa pada situasi hidup dengan cara dialog dan secara praktis menggunakan kosa kata, struktur dan ungkapan-ungkapan tinggi frekuensinya.
Namun problem utamanya:
1)   Metode ini kadang-kadang memberi kebebasan bicara pada situasi-situasi yang tidak di programkan yang mengakibatkan kebebasan yang tidak terpuji dalam menggunakan kata atau struktur kalimat. Ini kata Wallija Ravraz : “Biasanya siswa mencampur adukan tak karuan antara bahasa asing dan bahasa ibu.”
2)   Kalau bahasa ibuu diasingkan dari bahasa kedua, murid hanya mengetahui makna struktur (                            ) dari konteks saja. Sedangkan memahami struktur melalui konteks hanya bisa dijalankan oleh murid-murid yang cerdas saja
3)   Banyak guru yang tidak siap untuk melaksanakannya, asas manfaat bercakap Bahasa Arab di negara kita sangat terbatas.[6]

3.    Metode Aural-Oral
a.              Pengertian
Aural-oral method atau Audio Lingual method timbul sebagai sambutan terhadap dua hal penting yang terjadi pada tahun 50-an dan 60-an, dua hal itu adalah:
1)   Beberapa sarjana psikologi melaksanakan pengkajian Bahasa Indian yang tidak tertulis di Wilayah A.S
2)   Berkembangnya komunikasi yang mendekatkan jarak antara satu individu dan lainnya serta kebutuhan kepada bahasa untuk digunakan dalam berkomunikasi
Metode ini timbul sebagai reaksi terhadap dua metode yang lalu. Menurut metode ini bahasa adalah apa yang kita dengar dan apa yang kita ucapkan. Metode ini disebut juga metode alami atau natural method.
b.             Ciri-cirinya
Di antara yang paling menonjol adalah:
1)   Bahasa adalah pendengaran dan pembicaraan (tuturan). Sedangkan tulisan adalah kegiatan cerminan dari yang di dengar dan yang dibicarakan. Karenanya perhatian harus ditekankan pada pembicaraan
2)   Menekankan kepada peniruan, hafalan, asosiasi, dan analogi, karena metode ini didasarkan kepada prinsip bahasa dalam mempelajari bahasa asing hendaknya murid berada dalam situasi dan kondisi yang sama seperti waktu ia mempelajari bahasa ibunya waktu kecil
3)   Mengajarkan bahasa asing harus mengikuti rangkaian tertentu, yaitu menyimak, berbicara, membaca, kemudian menulis
4)   Penerjemahan, membahayakan pengajaran bahasa asing, dan tidak ada dorongan untuk menggunakannya
5)   Setiap bahasa mempunyai sistem sendiri-sendiri. Karenanya tak ada gunanya memperbandingkan antara bahasa asing dengan bahasa ibu
c.              Penilain dan Sikap
Metode Oral-Aural itu bertolak dari pemikiran yang akurat tentang bahasa dan fungsinya. Tidak ragu lagi bahwa perhatian keterampilan menyimak dan berbicara adalah hal yang serasi dengan situasi dan kondisi masyarakat manusia.
Namun suksesnya mengajarkan Bahasa Arab mengikuti metode ini tergantung kepada guru yang betul-betul mempunyai kemampuan dan kreatifitas yang tinggi, dan sarana serta situasi dan kondisi sedemikian rupa.[7]

4.    Metode Membaca
a.              Timbulnya
Timbulnya metode membaca, reading method bersumber kepada orang pakar pengajaran bahasa asing pada perempatan abad XX, ketika Michael Wist menerbitkan bukunya Bilingualis With Special Reference to Begal.
Dalam buku itu, penyusun mempelajari kasus pengajaran Bahasa Inggris di India. Dan ia menjelaskan bahwa rakyat India sangat memerlukan keterampilan membaca, tidak membutuhkan percakapan dengan bahasa Inggris.
Di samping itu membaca lebih mudah mengerjakannya. Mulailah Wist menyusun buku-buku tentang “belajar membaca” berdasarkan frekuensi Wist Thorndic
b.             Ciri-ciri/Langkah-langkahnya
Di antara ciri metode membaca yang terutama menurut Dr. Rusyadi A. T. adalah sebagai berikut:
1)   Biasanya dimulai dengan latihan keterampilan bunyi, kemudian murid-murid menyimak kalimat-kalimat sederhana dan mengucapkan sebagai bunyi dan kalimat-kalimat sampai sistem bunyi itu familiar bagi mereka
2)   Setelah latihan membaca kalimat-kalimat tertentu, murid membaca kalimat-kalimat itu dalam teks dalam rangka meningkatkan kepandaian murid membaca dalam hati
3)   Murid membaca teks tadi dengan suara nyaring yang diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan tentang isi kandungan teks
4)   Setelah itu membaca dibagi dua macam, membaca intensif (                                       ) dan membaca ekstensif (                                            )
a)             Membaca Intensif
Karakteristik membaca intensif adalah sebagai berikut :
·      Dilakukan de kelas bersama guru
·      Tujuannya untuk meningkatkan keterampilan utama dalam membaca, dan memperkaya perbendaharaan kata serta menguasai qawaid yang dibutuhkan dalam membaca
·      Guru menguasai dan membimbing kegiatan itu. Guru memantau kemajuan masing-masing murid. Dan ia mengetahui faktor kesulitan yang dihadapi murid dan membantu mereka mengatasinya
b)            Membaca Ekstensif
·      Kegiatan membaca dilakukan di luar kelas
·      Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman isi bacaan
·      Sebelumnya, di kelas guru mengarahkan, menentukan materi bacaan dan mendiskusikannya
Sekalipun tidak dibimbing secara intensif dan tidak pula dipantau dengan ketat, karena memang fasenya begitu, tetapi membaca tingkat ekstensif              mempuyai andil besar dalam mengantarkan ke siswa pintu mengetahui pusaka Arab dan membaca buku-bukunya, sehingga mereka memahami kebudayaannya
c.              Evaluasi Metode Membaca
Berdasarkan ciri-ciri metode membaca di atas, kita bisa mencatat hal-hal dibawah ini:
1)   Dalam metode membaca ini tidak banyak hal yang baru, karena asas-asas dan prinsip metode-metode lain di fungsikan pula dalam metode ini. Hanya karena memfokuskan kepada keterampilan membaca lah metode ini menjadi berbeda dengan metode-metode lain, sehingga ia mempunyai ciri tersendiri
2)   Metode membaca tidak menolak penggunaan bahasa lain sebagai bahasa pengantar, dan menerjemahkan kata-kat atau kalimat dari bahasa asing ke dalam bahasa ibu. Konsep ini di adopsi dari metode Qawaid-Terjemah
3)   Langkah-langkah yang dilakukan metode ini sama dengan langkah-langkah mengajarkan bahasa ibu. Khususnya, mengajarkan membaca dalam program mengajarkan bahasa Arab sebagai bahasa ke dua, di lakukan pada tingkat-tingkat tinggi. Itu sama dengan mengajarkan membaca pada program pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa ibu
4)   Metode ini lahir bukan karena menyambut perubahan-perubahan pengertian kebahasaan dan pula menyambut teori para pakar ilmu jiwa, melainkan karena kebutuhan praktis. Kebutuhan peserta didik kepada keterampilan membaca melebihi kebutuhan mereka kepada keterampilan lainnya
5)   Pada era globalisasi ini, membaca merupakan salah satu tuntutan kemajuan manusia kontemporer. Setiap hari terbit ribuan bahkan sampai satu juta judul buku dalam berbagai bahasa. Bila seseorang tidak memiliki kemampuan membaca ia jauh ketinggalan di bidang budaya. Dalam hal ini, metode membaca membuka pintu kemajuan, sehingga mudahlah bagi para siswa untuk berkomunikasi dengan media cetak dan menggali ilmu pengetahuan

5.    Metode Elektik (Tariqah al-Intiqaiyyah)
a.              Pengertian
Metode elektik yaitu metode gabungan yang mengambil aspek-aspek positifnya baik dari keterampilan maupun pengetahuan bahasa, sehingga mencapai tujuan dan hasil pembelajaran yang maksimal. Metode elektik dimaksud mencakup metode percakapan, membaca, latihan, dan tugas.[8]
b.             Lahirnya
Metode Elektik lahir sebagai reaksi terhadap ketiga metode Qawaid-Terjemah, Metode Langsung dan Metode Aural-Oral. Asumsi yang terkandung dalam metode ini adalah:
1)   Setiap metode mempunyai kelebihan yang mungkin bisa dimanfaatkan dalam mengajarkan bahasa asing
2)   Tidaklah terdapat suatu metode yang betul-betul mulus (teladan), dan tidak pula terdapat suatu metode jelas-jelas salah. Yang benar, setiap metode mempunyai kelebihan dan kelemahan
3)   Adalah sangat mungkin mengkompromikan aspek-aspek positif dari ketiga metode tadi, sehingga ketiga metode itu menyumbangkan aspek-aspek positifnya yang serasi dan tidak saling bertentangan satu sama lain, dan tidak pula kontradiktif atau reaktif
4)   Tidaklah terdapat suatu metode yang cocok untuk semua tujuan, untuk semua peserta didik, untuk semua guru dan tidak pula untuk semua program/materi pengajaran[9]
c.              Materi ajar dan desain pembelajarannya
Materi ajarnya yaitu topik-topik yang komunikatif dan kontekstual tentang tema keseharian, keagamaan, iptek dan kebudayaan.
Desain pembelajarannya meliputi:
1)            Keterampilan mendengar dan berbicara (istima’-kalam)
a)   Teks percakapan yang komunikatif dan kontekstual
b)   Mufradat
c)   Tadribat (pelatihan)
d)  Al’ab lughowiyah (permainan bahasa)
e)   Wajib (tugas)
2)            Keterampilan membaca dan menulis (Qira’ah-Kitabah)
a)   Teks bacaan yang komunikatif, pragmatik, dan kontekstual
b)   Mufradat
c)   Contoh-contoh teks yang struktural, komunikatif, dan kontekstual
d)  Penjelasan dan kesimpulan (oleh pengajar)
e)   Latihan membaca
f)    Wajib (tugas)[10]

6.    Metode Pengetahuan
Ada lagi metode yang lahir tahun 60-an, yaitu Metode Pengetahuan (Cognitive Code Learning Theory) Namun metode ini hanya merupakan anjuran saja bagi kita.
Di antara ciri utama metode ini adalah: mengenalkan sistem bunyi, sistem Nahwu (sintaksis), sistem sorof (morfologi) dan sistem dalali (semantik) bahasa Arab sebagai bahasa ke dua.
Tujuan utama metode ini, memungkinkan murid berlatih bahasa Arab, menguasai sistem-sistemnya dan memahamihakikatnya secara merata.[11]

7.    Metode Imlak (Dikte)
a.              Kepentingannya
Imlak penting sekali di antara cabang-cabang ilmu bahasa. Bahkan itulah asas yang utama untuk mengibaratkan isi hati kita dengan tulisan. Nahu hanya wasilah (jalan) untuk membetulkan baris akhir kata-kata. Tetapi imlak wasilah untuk membentulkan rupa tulisan kata-kata.
Imlak menjadi ukuran untuk mengetahui sampai dimana pelajaran murid-murid, supaya dapat diberikan pelajaran baru.
b.             Tujuan Imlak
Di antara tujuan imlak sebagai berikut:
1)   Melatih murid-murid, supaya menuliskan kata-kata dengan betul dan menetapkan bentuk (rupa) kata-kata itu dalam otak mereka, sehingga dapat mereka menuliskannya tanpa mencontoh
2)   Melatih pancaindera yang dipergunakan waktu imlak, supaya kuat dan tajam, yaitu telinga untuk mendengarkan, tangan untuk menuliskan dan mata untukmemperhatikan bentuk kata-kata
3)   Membiasakan murid-murid, supaya teliti, disiplin, awas, bersih dan tertib
4)   Meluaskan pengalaman murid-murid dan memperkaya bahasanya dan pengetahuan umumnya
5)   Melatih murid-murid, supaya dapat mencatat dan menuliskan apa-apa yang didengarnya dengan cepat dan terang
c.              Macam-macam imlak
1)   Imlak yang disalin. Artinya murid-murid menyalin kalimat dari papan tulis atau dari kitab bacaan yaitu sesudah membaca dan memahaminya serta mengeja sebagian kata-katanya dengan ejaan lisan
2)   Imlak yang dilihat. Artinya diperlihatkan kepada murid-murid kalimat imlak yang dituliskan di papan tulis, kemudian disuruh membaca dan memahaminya serta mengeja sebagian kata-katanya. Kemudian kalimat itu ditutup dan diimlakan kepada mereka
3)   Imlak yang di dengar. Artinya diperdengarkan kepada murid-murid kalimat imlak (tanpa dituliskan). Setelah diadakan munaqasyah (perdebatan) tentang artinya dan ejaan kata-katanya yang sukar, lalu dituliskan di papan tulis. Kemudian dihapus, sesudah disuruh murid-murid memperhatikannya, lalu diimlakan kepada mereka
4)   Imlak ujian atau testing. Tujuannya untuk menguji murid-murid dan mengukur sampai dimana kemajuannya dalam pelajaran yang telah diberikan kepadanya. Dalam imlak ujian ini kalimat imlak itu, diimlakan kepada murid-murid, sesudah artinya tanpa diadakan munaqasyah tentang ejaannya
d.             Metode Mengajarkan Imlak
1)   Mengajarkan imlak yang disalin
a)   Pendahuluan yang sesuai dengan acara pelajaran
b)   Memperlihatkan acara imlak di papan tulis atau dari kitab bacaan
c)   Guru membaca acara imlak sebagai contoh
d)  Kemudian disuruh seorang murid membacanya
e)   Bersoal-jawab dengan murid-murid untuk memahami acara imlak, sehingga mereka paham sebenar-benarnya faham
f)    Menyuruh murid-murid mengeja kata-kata yang sukar
g)   Kemudian guru menyuruh murid-murid menyalin acara imlak dalam buku tulis khusus untuk itu sebagai berikut:
                                                                 ·        Mengeluarkan buku tulis dan pena, lalu disuruh mereka menuliskan tanggal bulan Hijri dan Miladi serta judul imlak
                                                                 ·        Guru membacakan imlak kepada murid-murid, kata demi kata, sambil menunjuk kepada tulisan kata itu
                                                                 ·        Semua murid menulis bersama-sama, sesudah dibacakan oleh guru
h)   Kemudian guru membaca acara imlak sekali lagi, supaya dapat murid-murid memperbaiki kalau ada kesalahan-kesalahannya
i)     Menghimpunkan buku tulis murid-murid dengan cara teratur dan tenang
2)   Mengajarkan imlak yang dilihat
Metode mengajarkan imlak yang dilihat sama dengan metode mengajarkan imlak yang disalin. Perbedaannya ialah, sesudah selesai membaca acara imlak dan bersoal-jawab untuk memahaminya serta mengeja kata-kata yang sukar, lalu ditutup acara imlak seluruhnya, sehingga tiada dapat dilihat oleh murid-murid. Kemudian guru membacakan imlak kepada murid-murid, kata demi kata seperti tersebut di atas.
3)   Mengajarkan imlak yang didengar
a)   Pendahuluan seperti pada muthala’ah
b)   Guru membaca acara imlak seluruhnya, supaya dapat dipahami oleh murid-murid secara umum (tanpa dilihat tulisannya)
c)   Bersoal-jawab dengan murid-murid untuk memahami acara imlak
d)  Mengeja kata-kata yang sukar, lalu dituliskan di papan tulis. Guru menyuruh murid-murid memperhatikan kata-kata itu
e)   Murid-murid mengeluarkan buku tulis dan pena, lalu menuliskan tanggal hari bulan Hijri dan Miladi serta judul imlak. Ketika itu guru menghapus kata-kata yang tertulis di papan tulis
f)    Guru membaca acara imlak sekali lagi
g)   Kemudian guru membacakan imlak sebagai berikut:
                                                                 ·        Bacakanlah imlak itu, sebagian demi sebagian, panjang pendeknya menurut keadaan murid-murid
                                                                 ·        Membacakan imlak itu hanya sekali saja, supaya murid-murid mendengarkan baik-baik dan hati-hati
                                                                 ·        Guru hendaklah membacakan juga tanda-tanda: koma, titik koma, titik, tanda tanya dan sebagainya. Serta peringatkan pula awal baris atau baris baru
h)   Guru membaca acara imlak sekali lagi (kali yang ketiga), supaya dapat murid-murid membetulkan kesalahannya
i)     Mengumpulkan buku tulis murid-murid dengan tenang dan teratur
4)   Mengajarkan imlak ujian (testing)
Metode mengajarkan imlak ujian, sama dengan metode mengajarkan imlak yang didengar, hanya perbedaannya membuang (d), yaitu mengeja kata-kata yang sulit.[12]

8.    Metode Anasyid
a.              Pengertian
Anasyid ialah sya’ir-sya’ir yang mudah yang disusun menurut susunan yang tertentu dan dibacakan dengan melagukan (menyanyikan) bersama-sama serta mempunyai tujuan yang tertentu.
b.             Kepentingannya
Anasyid adalah salah satu macam sastera yang disukai oleh murid-murid dan menarik hatinya. Lagunya menambah semangat murid-murid, karena tiap-tiap murid merasa bahwa ia unsur yang aktif bersama teman-temannya dalam menyanyikan lagu itu. Pengaruh nyanyian bersama itu, menambah kegembiraan hati murid-murid, apa lagi jika di adakan waktu pesta dan keramaian luar biasa.
c.              Tujuan
Anasyid mempunyai tujuan pendidikan, akhlak dan bahasa:
1)   Anasyid adalah wasilah (jalan) untuk mengobati murid-murid yang malu dan takut mengeluarkan suaranya seorang diri
2)   Anasyid membangkitkan kegembiraan hati murid-murid dan menambah kerajinannya, menghilangkan kebosanannya, karena nyanyian yang merdu dan lagu yang menggembirakan
3)   Anasyid berpengaruh besar untuk memperbaiki akhlak murid-murid dan menanamkan sifat-sifat keutamaan dan semangat keagamaan
4)   Anasyid memperbaiki bacaan murid-murid sehingga mereka dapat mengeluarkan huruf dari makhrajnya
5)   Anasyid menambah dan memperhalus bahasa murid-murid dan kesusastraannya
d.             Metode mengajarkan Anasyid
1)   Pendahuluan untuk menarik hati murid-murid ke acara anasyid
2)   Guru memperlihatkan anasyid yang tertulis di papan tulis
3)   Guru membaca anasyid tanpa lagu dan nyanyian
4)   Guru menyuruh setengah murid membaca anasyid, sehingga betul bacaannya
5)   Guru bertanya jawab dengan murid-murid tentang arti dan maksud anasyid, sehingga mereka mengerti maksudnya
6)   Kemudian guru anasyid melatih murid-murid menyanyikan anasyid menurut mestinya. Mula-mula guru sendiri menyanyikan, kemudian disuruh murid-murid mengikutinya. Dengan berulang-ulang menyanyikan bersama-sama murid, akhirnya anasyid itu hafal oleh mereka semuanya, tanpa merasa payah menghafalnya[13]

9.    Metode Nusus (Teks) Sastra
a.              Pengertian Nusus
Nusus ialah menarik pelajar-pelajar supaya  merasakan lezatnya kesenian sastera, yaitu dengan mempelajari nusus secara mendalam, kritis dan menganalisanya serta mengetahui dimana letak keindahan pikiran, khayalan, perasaan dan susunan perkataannya.
b.             Tujuan Nusus
Tujuan-tujuan nusus yaitu:
1)   Supaya pelajar-pelajar mengetahui keindahan seni sastera dalam perkataan, pidato-pidato dan sya’ir-sya’ir ahli sastera
2)   Membangkitkan keinginan pelajar-pelajar untuk mempelajari sastera dan mendidik mereka supaya merasakan lezat sastera
3)   Supaya pelajar-pelajar mengetahui keistimewaan bahasa dan perubahannya dari zaman ke zaman
4)   Supaya pelajar-pelajar mengetahui penyair-penyair dan pujangga-pujangga dan keistimewaan mereka masing-masing dalam kesusasteraan
5)   Menumbuhkan kecerdasan pelajar-pelajar dalam kesusasteraan dan memperkaya mereka dengan kekayaan bahasa
6)   Memberikan kesempatan kepada pelajar-pelajar yang mempunyai bakat sastera untuk melahirkan bakatnya dengan mencontoh dan meniru nusus-nusus yang dipelajarinya
c.              Metode Mengajarkan Nusus
1)   Pendahuluan, yaitu menyiapkan pelajar-pelajar ke acara nusus dan keterangan ringkas tentang penyair dan pujangga yang punya nusus
2)   Membaca nusus (mula-mula guru, kemudian pelajar) sehingga betul bacaannya
3)   Munaqasyah umum (bersoal jawab) tentang isi dan maksud yang nyata dalam nusus
4)   Menerangkan nusus dengan terperinci, serta memperhatikan tempat-tempat keindahan sastera
5)   Pelajar-pelajar membaca nusus sekali lagi
6)   Menganalisa nusus kepada bagian-bagian yang asasi
7)   Mengambil kesimpulan dan keputusan tentang nusus itu
8)   Memperhubungkan antara nusus itu dengan nusus-nusus lain yang telah dipelajari untuk menggambarkan sastera bagi penyair atau bagi masa yang tertentu[14]

10.     Tarikh (Sejarah) Sastera
a.              Pengertian
Tarikh sastera ialah ilmu membahas bahasa dan sebab kemajuan atau kemundurannya dari masa kemasa, karena faktor politik, kemasyarakatan, atau alam sekitarnya. Dan lagi meriwayatkan kehidupan pujangga-pujangga dan hasil karya mereka dalam bahasa dan kesusasteraan.
b.             Metode Mengajarkannya
1)   Guru memilih nusus dan mengajarkannya sebagaimana telah diterangkan pada metode menerangkan nusus
2)   Setelah selesai mempelajari nusus, guru menghadapkan perhatian pelajar-pelajar kepada hukum-hukum sastera atau keistimewaan yang dapat diambil dari nusus itu sebagai hasil menganalisanya
3)   Setelah guru selesai mengajarkan kumpulan yang cukup dari beberapa nusus dalam satu masa, maka guru mengumpulkan hukum-hukum yang bercerai yang diambil dari beberapa nusus dalam satu karangan (kuliah). Kemudian guru membacakan dengan teratur kepada pelajar-pelajar dalam satu pelajaran yang khusus. Selain daripada itu guru dapat menambah hukum-hukum lain yang tidak tersebut dalam nusus-nusus itu. Kemudian guru menerangkan kepada pelajar-pelajar sumber tempat mengambilnya, supaya mereka membacanya[15]

C.          Teknik-Teknik Pengajaran Bahasa Arab
Teknik adalah pengaturan dan langkah-langkah prosedural yang digunakan untuk mencapai sasaran proses pembelajaran itu sendiri.
Definisi lain mengatakan “strategi dan praktek operasional yang terjadi dikelas (lapangan)
Maka jelas, bahwa teknik itu adalah langkah operasional guru dalam kelas untuk mencapai target tertentu
Dengan kata prosedural, kita tahu bahwa teknik harus konsisten dengan metode dan approach, prinsip-prinsipnya tidak boleh bertentangan atau tidak seiring dengan keduanya, agar sasaran tercapai dengan tepat.
Sebagai contoh:
a.    Pendekatan          : Komunikatif
b.    Metode                 : Aural-Oral
c.    Teknik                  : Tanya Jawab
Yang termasuk teknik mengajarkan seperti : induksi, deduksi, tanya jawab, diskusi, menunjukkan benda kongkrit, dramatisasi, membaca bersuara (sebagai contoh), pemberian tugas, ceramah dan sebagainya.[16]











BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pendekatan (approach) adalah Suatu pernyataan pendirian, filsafat dan keyakinan. Approach ialah sesuatu yang bersifat aksioma (jelas kebenarannya) yang diyakini, walaupun kebenaran itu tidak mesti dapat dibuktikan. Kongkritnya, approach dalam pengajaran bahasa terdiri dari serangkaian asumsi mengenai hakikat bahasa dan pembelajarannya.
Metode adalah “Prosedur atau rencana menyeluruh yang berhubungan dengan penyajian materi pelajaran secara teratur dan serasi serta tidak saling bertentangan satu sama lain berdasarkan suatu approach.”
Teknik adalah pengaturan dan langkah-langkah prosedural yang digunakan untuk mencapai sasaran proses pembelajaran itu sendiri. Yang termasuk teknik mengajarkan seperti : induksi, deduksi, tanya jawab, diskusi, menunjukkan benda kongkrit, dramatisasi, membaca bersuara (sebagai contoh), pemberian tugas, ceramah dan sebagainya








DAFTAR PUSTAKA

Junus,Mahmud. 1975. Metodik Khusus Bahasa Arab. Jakarta: CV Al-Hidayah
Mansyur, Moh, dkk. 1995. Materi Pokok Bahasa Arab I. Jakarta: Ditjen Binbaga Islam
Bantulah.wordpress.com/2010/11/30/inovasipembelajaranbahasaarab




[1] Moh. Mansyur dkk, Materi Pokok Bahasa Arab I, Ditjen Binbaga Islam, Jakarta, 1995, hlm. 165
[2] Moh. Mansyur dkk, Materi Pokok Bahasa Arab I, Ditjen Binbaga Islam, Jakarta, 1995, hlm. 169
[3] Moh. Mansyur dkk, Materi Pokok Bahasa Arab I, Ditjen Binbaga Islam, Jakarta, 1995, hlm. 171
[4] Moh. Mansyur dkk, Materi Pokok Bahasa Arab I, Ditjen Binbaga Islam, Jakarta, 1995, hlm. 173
[5] Bantulah.wordpress.com/2010/11/30/inovasipembelajaranbahasaarab
[6] Moh. Mansyur dkk, Materi Pokok Bahasa Arab I, Ditjen Binbaga Islam, Jakarta, 1995, hlm. 173
[7] Moh. Mansyur dkk, Materi Pokok Bahasa Arab I, Ditjen Binbaga Islam, Jakarta, 1995, hlm. 175
[8] Bantulah.wordpress.com/2010/11/30/inovasipembelajaranbahasaarab
[9] Moh. Mansyur dkk, Materi Pokok Bahasa Arab I, Ditjen Binbaga Islam, Jakarta, 1995, hlm. 179
[10] Bantulah.wordpress.com/2010/11/30/inovasipembelajaranbahasaarab
[11] Moh. Mansyur dkk, Materi Pokok Bahasa Arab I, Ditjen Binbaga Islam, Jakarta, 1995, hlm. 180
[12] Mahmud Junus, Metodik Khusus Bahasa Arab I, C.V. Al-Hidayah, Jakarta, 1975, hlm. 51
[13] Mahmud Junus, Metodik Khusus Bahasa Arab I, C.V. Al-Hidayah, Jakarta, 1975, hlm. 92
[14] Mahmud Junus, Metodik Khusus Bahasa Arab, C.V. Al-Hidayah, Jakarta, 1975, hlm. 99
[15] Mahmud Junus, Metodik Khusus Bahasa Arab, C.V. Al-Hidayah, Jakarta, 1975, hlm. 101
[16] Moh. Mansyur dkk, Materi Pokok Bahasa Arab I, Ditjen Binbaga Islam, Jakarta, 1995, hlm. 170

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar